Kunjungan Singkat Ke Surakarta

2015-07-08 20.09.35

KA Kutojaya Selatan Stabling di Stasiun Kiaracondong

Rabu, 8 Juli 2015 beberapa hari lagu menjelang libur lebaran justru ada promo tiket kereta api dengan menggunakan KA Kutojaya Selatan berangkat ke Kutoarjo, tidak banyak aktivitas yang saya lakukan di kereta selain tidur singkat cerita lanjut menggunakan kereta Prameks Prambanan Ekspress menuju Stasiun Yogyakarta, pagi di Yogyakarta jalan di sekitaran Malioboro sekalian menyempatkan untuk mandi di sekitaran stasiun memang banyak, suasana bulan Ramadan jelas sepi. Sekedar transit ke Yogyakarta ini karena tujuan utamanya yaitu menuju Solo. 


2015-07-09 07.55.08 
KA Joglo Ekpress

Dengan menggunakan KA Joglo Ekspress 147 dengan harga Rp 20.000,00 keberangkatan dari Yogyakarta jam 08:15 Setelah sampai di Stasiun Purwosari saya berjalan di sekitar Jalan Slamet Riyadi untuk menuju Museum Radya Pustaka, saya memilih jalan kaki karena di jalan ini merupakan jalan utama pusat kotanya Solo, yang lebih unik di jalan Slamet Riyadi ini adalah bersebelahan dengan Jalur Kereta Api aktif Purwosari - Wonogori dengan menggunakan Kereta Api Railbus Batara Kresna. Jalan 1.5 km dari Stasiun Purwosari tiba juga di Loji Gandrung, 

2015-07-09 09.44.34 
LOJI GANDRUNG

Loji Gandrung adalah bangunan cagar budaya neo-klasik Eropa peninggalan Belanda yang saat ini dijadikan sebagai rumah dinas wali kota Surakarta. Bangunan ini terletak di Jalan Brigjen Slamet Riyadi, dibangun pada tahun 1879 sebagai tempat tinggal bagi seorang pejabat Belanda. Namun, bangunan ini lebih dikenal karena perannya sebagai tempat pertunjukan seni tradisional Banyuwangi, seperti Gandrung. Gandrung sendiri adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi. Tarian ini memiliki gerakan yang dinamis dan diiringi oleh musik tradisional. Dikutip dari wikipedia Pembangunan loji ini dimulai tahun 1830 dengan diarsiteki oleh C.P. Wolff Schoemaker, yaitu arsitek yang berasal dari Belanda dan menjadi guru besar arsitektur di Technische Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Rumah ini awalnya digunakan sebagai tempat kediaman saudagar perkebunan gula dan tuan tanah di Boyolali, yaitu Johannes Augustinus Dezentje (akrab dipanggil Tinus). Pembangunan dari Loji Gandrung dilakukan oleh Tinus setelah beliau menikah dengan salah satu anggota keluarga Keraton Kasunanan Surakarta yang bernama Raden Ayu Cokrokusumo. Ini merupakan pernikahan kedua yang dilakukan oleh Tinus setelah istri pertamanya, yaitu Johanna Dorothea Boode meninggal dunia setelah melahirkan anak pertamanya. Pada saat menempati Loji Gandrung, Tinus menempatkan seperangkat alat gamelan di teras rumah dan memperbanyak pekarangan serta taman. Setelah menempati Loji Gandrung, Tinus sering mengundang relasinya untuk menggelar acara di rumahnya ini. Beberapa acara yang digelar ini membuat masyarakat yang ada di sekitarnya menjuluki rumah milik Johannes Augustinus Dezentje sebagai Loji Gandrung, inilah asal usul rumah ini disebut Loji Gandrung, sekarang digunakan sebagai Rumah Dinas Walikota Surakarta. Kurang lebih 300 meter dari Loji Gandrung tiba di Taman Sriwedari dan Stadion Sriwedari cukup sepi kali ini saya datang tidak banyak aktivitas mungkin karena hari biasa, Stadion Sriwedari stadion yang legendaris. Stadion pertama yang menghelat PON (Pekan Olahraga Nasional) pada tahun 1948 

2015-07-09 09.51.53 
STADION SRIWEDARI 

Salfok sama plat name nya Stadion disitu tertulis Stadion R Maladi Sriwedari Sala cukup membuat saya penasaran siapakah R. Maladi dan Sala itu apa? Dikutip dari berbagai sumber Pada tahun 1932, Sri Susuhunan Pakubuwana X dari Keraton Surakarta berinisiatif untuk membangun sebuah stadion untuk kegiatan olahraga kerabat Karaton dan kalangan pribumi. Stadion ini merupakan stadion pertama yang dibangun oleh bangsa Indonesia. Sedangkan stadion-stadion lain saat itu dibangun oleh orang Belanda. Sedangkan khusus di Surakarta saat itu, atlet sepak bola bumiputra hanya boleh bermain di lapangan alun-alun kidul, tanpa alas kaki. Melihat perlakuan yang tidak adil tersebut membuat R.M.T Wongsanegoro mengusulkan kepada Raja Surakarta untuk membangun Stadion yang dikhususkan menampung atlet bumiputra. Kemudian raja yang berkuasa sejak tahun bedirinya klub Rood-Wit itu langsung setuju, orang nomor satu yang terkenal sangat menaruh perhatian terhadap sepak bola ini memberikan lokasi di Kebun Suwung (Kelurahan Sriwedari). Perencana stadion dipercayakan kepada Mr. Zeylman dengan menghabiskan biaya sebesar 30000 gulden, dan pelaksana pembangunan sendiri dilakukan oleh R. Ng. Tjondrodiprojo beserta 100 pekerjanya selama 8 bulan. Stadion yang berbentuk oval dan dilengkapi dengan trek untuk bermain atletik dan lampu sorot di setiap sudut ini selesai pada tahun 1933. Ternyata R Maladi itu adalah mantan presiden PSSI periode 1950-1959. Bahkan Maladi juga pernah menjadi penjaga gawang PSSI, untuk menghormati jasa-jasa tersebut Pada tanggal 4 Agustus 2003, pemerintah Kota Solo yang dipimpin oleh wali kota Slamet Suryanto mengubah nama Stadion Sriwedari menjadi Stadion R Maladi namun saat ini berganti nama kembali menjadi Stadion Sriwedari. Sebelum masuk ke Museum beruntung saya melihat KA Railbus Batara Kresna sedang melewatu Jalan Slamet Riyadi relasi Purwosari - Wonogiri cukup unik melihatnya karena baru kali ini liat kereta bersebelahan dengan jalan raya. 

2015-07-09 10.33.00 
MUSEUM RADYA PUSTAKA 

Berjalan sedikit tiba kita di tujuan utama saya yaitu ke Museum Radya Pustaka Museum ini merupakan museum tertua di Indonesia, untuk ulasan selengkapnya saya akan buat thread yang berbeda.

 2015-07-09 14.31.32 
MESJID KERATON SURAKARTA 

Hari saat itu cukup terik dari museum Radya Pustaka naik becak menuju Mesjid Keraton Surakarta kurang lebih 3 km untuk Sholat Dzuhur sekalian cari batik disekitaran Pasar Klewer, Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Bisa dilihat dari prasasti yang terdapat di dinding luar ruangan utama masjid. Masjid ini merupakan masjid dengan status sebagai masjid kerajaan, masjid ini juga berfungsi mendukung segala keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti grebeg, sekaten, dan maulid nabi mirip-mirip di Keraton Yogyakarta, tiang-tiang yang tinggi sepertinya dari kayu, Sejenak merebahkan badan setelah dari malam diperjalanan yang melelahkan, kebetulan banyak juga yang sedang beristirahat, maklum bulan puasa tentu istirahat apalagi selain tiduran. Selesai untuk Sholat saya rencana nya akan ke Pura Mangkunegaran tapi sepertinya waktu kurang memungkinkan karena menjelang sore akhirnya saya hanya berjalan-jalan kesekitaran Fort Vastenburg, mampir ke depan Pura Mangkunegaran beli oleh-oleh khas Solo, sambil membeli makan untuk berbuka puasa disekitan stasiun kemudian malam harinya ke Stasiun Solo Balapan untuk kembali ke Bandung dengan menggunakan KA Lodaya pesan makanan ketika sahur dijalan dengan makan nasi ayam cukup mengenyangkan. 

2015-07-09 17.56.44 

Tiba di Stasiun Solo Balapan Sekitar jam 04:25 KA Lodaya tiba di Stasiun pemberhentian terakhir Stasiun Bandung bergegas turun keluar karena saya akan melanjutkan naik kereta lokal tujuan Stasiun Cimahi 

2015-07-10 04.31.13 

Ka Lokal Padalarang Cicalengka jadwal paling utama Demikian pengalaman singkat jalan" hemat dengan menggunakan kereta api ke Surakarta

Comments

Popular posts from this blog

Nostalgia Curug Cimahi di Tahun 2012

Hunting Ke Stasiun Sukabumi

Sehari di Cirebon ke Keraton Kasepuhan